Thursday, April 7, 2016

Penjelajahan Samudera



Perdagangan lintas laut lama terganggu akibat adanya Perang Salib yang berlangsung tahun 1096 – 1291. Jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani pada tahun 1453 kian memperburuk situasi tersebut. Konstantinopel menghalangi Eropa untuk dapat berdagang di wilayah kekuasaannya.  Jalur perdagangan antara Eropa dan Asia pun terputus.  Oleh karena itu, bangsa Barat berusaha keras untuk memenuhi kebutuhannya dengan melakukan penjelajahan ini.
Berikut beberapa faktor yang juga mendorong adanya penjelajahan Samudera :
  • Semangat gold, glory, dan gospel, yaitu semangat untuk mecari kekayaan, memperoleh kejayaan dan menyebarkan agama (umumnya Nasrani).
  • Perkembangan teknologi kemaritiman yang memungkinkan pelayaran dan perdagangan yang lebih luas, termasuk menyeberangi Samudra Atlantik.  
  • Adanya sarana pendukung seperti kompas, teropong, peta, dan lainnya, yang menggambarkan secara lengkap dan akurat garis pantai, terusan, dan pelabuhan.
  • Pengaruh penemuan Copernicus (yang didukung oleh Galileo Galilei) yang menyatakan bahwa bumi itu bulat seperti bola, matahari merupakan pusat dari seluruh benda-benda antariksa. Bumi dan benda-benda antariksa lainnya beredar mengelilingi matahari (teori Heliosentris).
  • Semangat Reconguesta, yaitu semangat pembalasan terhadap kekuasaan Islam dimanapun yang dijumpainya sebagai tindak lanjut dari Perang Salib.





Negara-negara yang memelopori penjelajahan samudra adalah Portugis dan Spanyol, setelah itu menyusul Inggris, Belanda, Prancis, Denmark, dan lainnya. Untuk menghindari persaingan antara Portugis dan Spanyol, maka pada tanggal 7 Juni 1494 lahirlah Perjanjian Tordesillas. Daerah kekuasaan di dunia non-Kristiani dibagi menjadi dua bagian dengan batas garis demarkasi/khayal yang membentang dari kutub Utara ke kutub Selatan. Daerah sebelah Timur garis khayal adalah jalur bagi Portugis, sedangkan daerah sebelah Baratnya adalah jalur bagi Spanyol.



Garis Khayal yang dibuat berdasarkan perjanjian Tordesillas


A.     Portugis

Berikut ini penjelajah-penjelajah yang berasal dari Portugis.

1)      Bartholomeu Dias
 Bartholomeu Dias berangkat dari Lisabon (Portugis) pada bulan Agustus 1487. Ketika sampai di ujung Selatan benua Afrika, kapal Dias terkena badai topan. Setelah badai reda, Dias kembali ke Portugis. ­

2)      Vasco da Gama
 Pada tanggal 8 Juli 1497, Raja Portugis Manuel I memerintahkan Vasco da Gama mengikuti jejak Dias. Ekspedisinya dilakukan melalui laut sepanjang pantai Afrika Barat. Dalam pelayarannya, Vasco da Gama sempat singgah di pantai Afrika Timur, lalu berlanjut dengan memasuki Samudra Hindia dan Laut Arab. Vasco da Gama tiba di Calcuta pada tanggal 22 Mei 1498 dan ia berupaya mendirikan pos perdagangan. Ia membeli rempah-rempah untuk dikirim ke Portugis dan sebagian dijual ke negara- negara Eropa lainnya.

Rute pelayaran pertama Vasco da Gama

3)      Alfonso d’ Albuquerque
Setelah beberapa lama menduduki Calcuta, Bangsa Portugis melanjutkan kembali ekspedisi ke Timur di bawah pimpinan Alfonso d’ Albuquerque. Ekspedisi tersebut menghasilkan ditaklukkannya Malaka pada tahun 1511.

 
B.      Spanyol

Berikut ini para penjelajah Spanyol yang melakukan pelayaran ke dunia Barat:

1)      Christopher Columbus
Pada tanggal 3 Agustus 1492, dengan menggunakan tiga buah kapal yaitu Santa Maria, Nina, dan Pinta, Columbus mulai berlayar di dunia Barat. Setelah berlayar lebih dari 2 bulan mengarungi Samudra Atlantik, sampailah di Pulau Guanahani, Karibia. Ia menamai penduduk asli di kawasan itu dengan ‘Indian’. Columbus bersama seorang penyelidik bernama Amerigo Vespucci terhitung telah berlayar 4 kali antara tahun 1492 – 1504. Mereka menemukan benua baru yang dinamakan Amerika.
2)      Ferdinand Magelhaens (Magellan)
Pada tanggal 10 Agustus 1519, Magelhaens berlayar ke Barat didampingi oleh Kapten Juan Sebastian del Cano dan seorang penulis dari Italia yang bernama Pigafetta. Penulis inilah yang mengisahkan perjalanan Magelhaens-del Cano mengelilingi dunia yang membuktikan bahwa bumi itu bulat seperti bola. Magelhaens dianggap sebagai orang besar dalam dunia pelayaran karena menjadi orang yang pertama kali berhasil mengelilingi dunia. Raja Spanyol memberi hadiah sebuah tiruan bola bumi. Pada tiruan bola bumi itu dililitkan pita bertuliskan ‘Engkaulah yang pertama kali mengitari diriku’.

C.      Inggris

1)      Sir Francis Drake
Pada tahun 1577 Drake berangkat berlayar dari Inggris ke arah Barat. Dalam pelayarannya, rombongan ini memborong rempah-rempah di Ternate. Setelah mendapatkan banyak rempah-rempah Drake pulang ke negerinya dan sampai di Inggris pada tahun 1580. 

2)      Pilgrim Fathers
Pada tahun 1607 rombongan yang menamakan diri ‘Pilgrim Fathers’ melakukan pelayaran ke arah Barat. Kapal yang bernama ‘May Flower’ berhasil membawa rombongan ini mendarat di Amerika Utara.

3)      Sir James Lancester dan George Raymond
Pada pelayaran tahun 1591, Lancester berhasil mengadakan pelayaran sampai ke Aceh dan Penang, sampai di Inggris pada tahun 1594. Pada bulan Juni 1602, Lancester dan maskapai perdagangan Inggris (EIC) berhasil tiba di Aceh dan terus menuju Banten lalu mendirikan kantor dagang.

4)      Sir Henry Middleton
Pada tahun 1604 pelayaran kedua EIC yang dipimpin Sir Henry Middleton berhasil mencapai Ternate, Tidore, Ambon, dan Banda. Sempat terjadi persaingan dengan VOC.

5)      William Dampier
Pada tahun 1688, Dampier melakukan pelayaran dan berhasil mendarat di Australia. Ia terus melanjutkan pelayaran dengan menelusuri pantai ke arah Utara.

6)      James Cook
Pada tahun 1770 Cook berhasil mendarat di pantai Timur Australia dan menjelajahi pantai Australia secara menyeluruh pada tahun 1771. Oleh karena itu, James Cook sering dikatakan sebagai penemu Benua Australia.

Sejak abad ke -13, rempah-rempah memang merupakan bahan dagang yang sangat menguntungkan. Hal ini mendorong orang-orang Eropa berusaha mencari harta kekayaan ini sekalipun menjelajah semudera. Keinginan ini diperkuat dengan adanya jiwa penjelajah. Bangsa Eropa dikenal sebagai bangsa penjelajah, terutama untuk menemukan daerah-daerah baru. Mereka berlomba-lomba meninggalkan Eropa. Mereka yakin bahwa jika berlayar ke satu arah, maka mereka akan kembali ke tempat semula. 

sumber
http://serbasejarah.blogspot.co.id/2011/05/penjelajahan-samudra-bangsa-eropa.html
http://wawasantara.blogspot.co.id/2012/03/sejarah-terjadinya-penjelajahan.html
 

Friday, March 18, 2016

Kebudayaan di Sekitar Saya (Wilayah D. I. Yogyakarta)

Sekaten, berasal dari kata Syahadatain atau dua kalimat syahadat) adalah acara peringatan ulang tahun nabi Muhammad SAW yang diadakan pada setiap tanggal 5 bulan Jawa Mulud (Rabiul Awal tahun Hijriah) di Alun-alun utara Surakarta dan Yogyakarta. Upacara ini dahulu dipakai oleh Sultan Hamengkubuwana I, pendiri keraton Yogyakarta untuk mengundang masyarakat mengikuti dan memeluk agama Islam.

Sekaten

Pada hari pertama, upacara diawali saat malam hari dengan iring-iringan abdi dalem (punggawa kraton) bersama-sama dengan dua set gamelan Jawa Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu. Iring-iringan ini bermula dari pendapa Ponconiti menuju masjid Agung di Alun-alun Utara dengan dikawal oleh prajurit Kraton. Kyai Nogowilogo akan menempati sisi utara dari Masjid Agung, sementara Kyai Gunturmadu akan berada di Pagongan sebelah selatan masjid. Kedua set gamelan ini akan dimainkan secara bersamaan sampai dengan tanggal 11 bulan Mulud, selama 7 hari berturut-turut. Pada malam hari terakhir, kedua gamelan ini akan dibawa pulang ke dalam Kraton.

Garebeg atau grebeg mempunyai arti "suara angin". Garebeg merupakan salah satu adat Kraton Ngayogyakarta Hadiningratyang untuk pertama kalinya diselenggarakan oleh Sultan Hamengku Buwana I. Upacara kerajaan ini melibatkan seluruh Kraton, segenap aparat kerajaan serta melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Secara formal, garebeg bersifat keagamaan yang dikaitkan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW serta kedua hari raya Islam (Idul Fitri dan Idhul Adha).
kirab-budaya-keraton-yogyakarta
Garebeg
Garebeg secara politik juga menjabarkan gelar Sultan yang bersifat kemuslimatan (Ngabdurrahman Sayidin Panotogomo Kalifatullah). Selama satu tahun terdapat tiga kali upacara garebeg yaitu Garebeg Mulud, Garebeg Besar, dan Garebeg Sawal yang diselenggarakan di kompleks Kraton dan lingkungan sekitarnya, seperti di Alun-alun Utara.
Garebeg Besar diselenggarakan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk untuk merayakan Idhul Adha, hari raya Islam yang kedua, yang terjadi dalam bulan Zulhijah. Dalam kalender Jawa, bulan Zulhijah disebut bulan Besar sehingga Garebeg yang diselenggarakan untuk merayakan Idhul Adha disebut Garebeg Besar.
Selain untuk merayakan Idhul Adha, penyelenggaraan Garebeg Besar juga dimaksudkan untuk merayakan umat Islam yang baru saja selesai menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Oleh karena itu, di kalangan masyarakat umum, Garebeg Besar juga dimengerti sebagai lebaran kaji (haji).
https://gudeg.net/direktori/308/garebeg-besar.html
Tradisi Ngabekten merupakan salah satu tradisi yang masih dilakukan di Kraton Yogyakarta. Tradisi ini selalu diadakan setiap tahun, yaitu pada setiap hari raya Idul Fitri.Kalau dilihat dari asal katanya, ngabekten berasal dari kata bekti (bahasa Jawa) yang artinya berbakti atau tingkah laku seseorang untuk menghormat kepada orang tua atau yang dituakan dan orang yang dihormati. Tradisi ngabekten masih berlangsung di rumah-rumah keluarga Jawa, termasuk di Kraton Yogyakarta.
tradisi-ngabekten
Ngabekten
Dalam masyarakat Jawa, ngabekten dilakukan pada saat dilaksanakan upacara lingkaran hidup, misalnya tetesan, supitan, tarapan, upacara perkawinan dan saat hari raya lebaran. Maksud dari penyelenggaraan tradisi ngabekten adalah sebagai ungkapan rasa hormat dan terima kasih kepada Sri Sultan sebagai junjungan mereka, yang telah memberi rezeki dan pengayoman selama mereka megabdi di kraton. Selain itu, tradisi ngabekten k raton Yogykarta juga dimaksudkan untuk meminta maaf kepada junjungannya atas segala kesalahannya, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Tradisi ngabekten juga diselenggarakan dengan maksud untuk memohon doa restu orang tua supaya tidak mendapat halangan dalam menjalani kehidupan selanjutnya.
http://www.njogja.co.id/budaya-jogja/tradisi-ngabekten-kraton-yogyakarta/
Malam Satu Suro 
Malam Satu Suro
Tradisi malam satu Suro bermula saat zaman Sultan Agung sekitar tahun 1613-1645. Saat itu, masyarakat banyak mengikuti sistem penanggalan tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Hal ini sangat bertentangan dengan masa Sultan Agung yang menggunakan sistem kalender Hijriah yang diajarkan dalam Islam. 

Sultan Agung kemudian berinisiatif untuk memperluas ajaran Islam di tanah Jawa dengan menggunakan metode perpaduan antara tradisi Jawa dan Islam. 

Sebagai dampak perpaduan tradisi Jawa dan Islam, dipilihlah tanggal 1 Muharam yang kemudian ditetapkan sebagai tahun baru Jawa. Hingga saat ini, setiap tahunnya tradisi malam satu Suro selalu diadakan oleh masyarakat Jawa.

Malam satu Suro sangat lekat dengan budaya Jawa. Iring-iringan rombongan masyarakat atau yang biasa kita sebut kirab menjadi salah satu hal yang bisa kita lihat dalam ritual tradisi ini. 

Para abdi dalem keraton, hasil kekayaan alam berupa gunungan tumpeng serta benda pusaka menjadi sajian khas dalam iring-iringan kirab yang biasa dilakukan dalam tradisi Malam Satu Suro.
http://www.indonesiakaya.com/kanal/foto-detail/perayaan-satu-suro-tradisi-malam-sakral-masyarakat-jawa

Peninggalan-peninggalan Sejarah Agama Hindu dan Buddha di Indonesia

1. Buku dan Kitab
  • Kitab Cilpa Sastra, peninggalan Kerajaan Syailendra yang berisi dasar-dasar pokok pembuatan candi.
  • Kitab Arjuna Wiwaha, ditulis oleh Mpu Kanwa pada tahun 1030. Kitab ini merupakan peninggalandari Kerajaan Kediri yang berisi tentang perjuangan Airlangga dalam mempertahankan Kerajaan Kediri.
  • Kitab Negara Kertagama, ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365. Kitab ini merupakan sumber sejarah Kerajaan Singasari dan Majapahit.
  • Kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular. Kitab ini dijadikan dasar hukum pada Kerajaan Majapahit. Kitab ini menekankan keadilan antara rakyat dengan bangsawan.
2. Candi
Candi erat kaitannya dengan keagamaan, sehingga candi dianggap sebagai tempat yang suci. Fungsi dari bangunan ini bagi umat Hindu adalah tempat untuk melakukan pemujaan terhadap roh nenek moyang ataupun raja-raja yang telah mendahului kita. Sedangkan, bagi umat Buddha, candi berfungsi sebagai tempat untuk memuja dewa-dewi yang mereka percayai. Beberapa contohnya, yakni :
  • Candi-candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno, seperti Candi Dieng dan Candi Gedung Songo. 
  • Candi bercorak Buddha, yakni Candi Borobudur.
  • Candi-candi lainnya, yakni Candi Mendut, Candi Plaosan, Candi Prambanan, dan Candi Sambi Sari.
3. Prasasti

Prasasti disebut juga batu bertulis, karena prasasti terbuat dari batu. Prasasti biasanya dibangun untuk mengenang suatu peristiwa penting yang telah terjadi. Dari prasasti inilah kita dapat mengetahui peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi pada masa lalu. Prasasti tertua yang ditemukan di Indonesia berasal dari abad ke-5, yaitu peninggalan Raja Mulawarman dari Kerajaan Kutai dan peninggalan Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara. Isi prasasti sebagian besar mengagungkan kekuatan raja.

Prasasti Ciaruteun ditemukan di tepi sungai Ciaruteun, di dekat muara sungai Cisadane Bogor. Prasasti tersebut menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta yang terdiri atas 4 baris syair. Di samping itu terdapat lukisan semacam laba-laba serta sepasang telapak kaki Raja Purnawarman. Raja Purnawarman merupakan salah seorang raja dari Kerajaan Mataram Kuno.

4. Arca
Arca atau patung biasanya terdapat dalam sebuah candi. Arca menjadi simbol telah bersatunya raja dengan dewa penitisnya. Patung dewa-dewa agama Hindu di antaranya Dewa Siwa, Dewa Wisnu, dan Dewa Brahma. Ketiga dewa tersebut biasanya disebut Trimurti. Di dalam agama Budha dikenal adanya Arca Buddha. Arca Buddha biasanya sangat sederhana, tanpa hiasan, hanya memakai jubah.

5. Karya Sastra
Peninggalan bersejarah yang lain adalah karya sastra. Keberadaan Kerajaan Kediri diketahui dari hasil karya berupa kitab sastra. Hasil karya sastra tersebut adalah Kitab Kakawin Bharatayudha yang ditulis Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang menceritakan tentang kemenangan Kediri/Panjalu atas Jenggala. Keberadaan Kerajaan Singasari dibuktikan melalui kitab sastra peninggalan zaman Majapahit yang berjudul Negarakertagama karangan Mpu Prapanca. Karya sastra tersebut menjelaskan tentang raja-raja yang memerintah di Singasari. Selain itu, ada Kitab Pararaton yang menceritakan riwayat Ken Arok yang penuh keajaiban. Kitab Pararaton isinya sebagian besar adalah mitos atau dongeng, tetapi dari Kitab Pararatonlah asal usul Ken Arok menjadi raja dapat diketahui.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dikelompokkan peninggalan pada masa Hindu dan Buddha. Berikut ini klasifikasi peninggalan pada masa Hindu dan Buddha.

1) Peninggalan pada Masa Hindu
a. Candi Prambanan
b. Candi Panataran
c. Candi Jago
d. Prasasti Ciaruteun
e. Prasasti Tugu
f. Prasasti Kebon Kopi
g. Arca Airlangga
h. Arca Joko Dolog
i. Kitab Arjunawiwaha
j. Kitab Sutasoma

2) Peninggalan pada Masa Buddha
a. Candi Borobudur
b. Candi Mendut 
c. Candi Muara Takus 
d. Prasasti Kedukan Bukit
e. Prasasti Talang Tuo
f. Prasasti Telaga Batu
g. Arca Buddha

Selain berwujud beda, ada juga peninggalan barsejaran dalam bentuk tradisi. Tradisi adalah kebiasaan nenek moyang yang masih dijalankan oleh masyarakat saat ini. Tradisi agama Hindu banyak ditemukan di daerah Bali karena penduduk Bali sebagian besar beragama Hindu. Tradisi agama Hindu yang berkembang di Bali, antara lain:
  1. Upacara nelubulanin ketika bayi berumur 3 bulan.
  2. Upacara potong gigi (mapandes).
  3. Upacara pembakaran mayat yang disebut Ngaben. Dalam tradisi Ngaben, jenazah dibakar beserta sejumlah benda berharga yang dimiliki orang yang dibakar.
  4. Ziarah, yaitu mengunjungi makam orang suci dan tempat suci leluhur seperti candi.
http://www.cpuik.com/2012/12/peninggalan-sejarah-hindu-dan-buddha.html

Perbedaan Sunan Gunung Jati dengan Fatahillah

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450 M, namun ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir pada sekitar 1448 M. Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok ulama besar di Jawa bernama walisongo. Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya Walisongo yang menyebarkan Islam di Jawa Barat.

Syarif Hidayatullah adalah putri Nyi Rara Santang atau Syarifah Muda'im, putri Prabu Siliwangi yang menikah dengan Maulana Ishaq Syarif Abdillah, penguasa kota Isma'illiyah Saudi Arabia. Mereka mempunyai dua putera, Syarif Nurullah yang melanjutkan kedudukan ayahnya sebagai Amir (penguasa) dan Syarif Hidayatullah yang bersama ibunya kembali ke tanah Jawa sepeninggal Maulana Ishaq Syarif Abdillah.

Oleh Pangeran Cakrabuana yang menjadi penguasa Caruban, Syarif Hidayatullah diperkenankan tinggal di daerah pertamanan Gunung Sembung sambil mengajarkan agama Islam. Hingga akhirnya Pangeran Cakrabuana menikahkan Syarif Hidayatullah dengan putrinya, Nyi Ratu Pakungwati. Karena usianya yang sudah lanjut, Pangeran Cakrabuana tahun 1479 menyerahkan kekuasaan kepada Syarif Hidayatullah. Sejak saat itulah Islam melalui Syarif Hidayatullah mulai berkembang pesat.

Sedangkan Fatahillah yang biasa disebut Faletehan atau Kyai Fathullah adalah seorang ulama dari Pasai Aceh yang hijrah ke Demak. Ia kemudian diangkat Raden Patah sebagai panglima pasukan Demak yang berangkat ke Sunda Kelapa bersama pasukan Cirebon menghadapi Portugis untuk mempertahankan pelabuhan Sunda Kelapa. Fatahillah berhasil mengusir Portugis dan memberi nama Jayakarta yang berarti Kota Kemenangan, yang kini menjadi kota Jakarta.

Dalam buku Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual terbitan Kompas, disebutkan juga bahwa setelah wafatnya Sultan Trenggana, Ratu Ayu, yang merupakan putri Syarif Hidayatullah, menikah dengan Fatahillah. Jadi bisa dikatakan Fatahillah merupakan menantu dari Syarif Hidayatullah.

Bukti lainnya adalah makam Fatahillah yang terletak di kompleks makam Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati wafat tahun 1568, sedangkan Fatahillah wafat 2 tahun setelahnya.

Sumber :
www.brilio.net

Thursday, February 4, 2016

Teori Masuknya Agama Hindu dan Buddha di Indonesia

Banyak sekali pendapat yang diajukan oleh para sejarawan mengenai proses masuknya agama Hindu dan Buddha. Namun, dari sekian banyak itu, tentu tak semua bisa diyakini dan disetujui. Ketidak adanya bukti yang benar-benar akurat menjadikan beberapa pendapat pun berguguran. 

Dari sekian banyak pendapat itu, saya akan membagikan setidaknya 6 teori yang dicetuskan oleh beberapa ahli yang sampai sekarang masih dipertahankan karena memiliki alasan-alasan yang sesuai dengan keadaan pada masa lalu. Berikut teori-teori tersebut :
N. J. Krom, Seorang Arkeolog

1. Teori Waisya (Pedagang)

Teori ini dikemukakan oleh N.J. Krom dan Mookerjee yang didasarkan oleh perdagangan yang dilakukan bangsa India ke Indonesia. Karena sejak 500 SM, Indonesia telah menjadi jalur perdagangan bangsa Cina dengan India. Namun, pelayaran dan perdagangan pada waktu itu bergantung pada angin musim yang berganti arah setiap setengah tahun, maka dalam waktu tertentu mereka akan menetap di Indonesia jika angin musim tidak memungkinkan untuk kembali. Selama para pedagang India tersebut tinggal menetap, memungkinkan terjadinya perkawinan para pedagang dengan pribumi. Dari sinilah pengaruh kebudayaan India menyebar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Termasuk didalamnya agama dan budaya Hindu. 

Kelebihan
  • Pada masa itu, kaum Ksatria sedang gencar-gencarnya melakukan petualangan untuk menaklukan daerah lain.
Kelemahan
  • Umumnya, kaum Ksatria tidak menguasai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa.

  • Apabila daerah Indonesia pernah menjadi daerah taklukkan kerajaan-kerajaan India, tentunya ada bukti prasasti (jaya prasasti/jayastamba/tugu kemenangan) yang menggambarkan penaklukkan tersebut. Akan tetapi, baik di India maupun di Indonesia tidak ditemukan prasasti semacam itu. Adapun prasasti Tanjore yang menceritakan tentang penaklukkan kerajaan Sriwijaya oleh salah satu kerajaan Cola di India, tidak dapat dipakai sebagai bukti yang memperkuat hipotesis ini. Hal ini disebabkan penaklukkan tersebut terjadi pada abad ke-11 sedangkan bukti-bukti yang diperlukan harus menunjukkan pada kurun waktu yang lebih awal.

2. Teori Sudra (Budak)

Teori yang disampaikan oleh Von Van Faber ini menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu di Indonesia dibawa oleh orang-orang India yang berkasta Sudra (budak). Mereka dianggap sebagai orang-orang buangan dan hanya hidup sebagai budak, sehingga mereka datang ke Indonesia dengan tujuan untuk mengubah nasibnya dan meperbaiki kehidupannya.

Kelebihan
  • Masyarakat yang bertempat pada kasta Sudra pasti ingin memperbaiki hidup, salah satu caranya adalah dengan mencari tempat lain, seperti Indonesia
Kelemahan

  • Golongan Sudra tentu tidak mengusai bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa.
  • Kasta Sudra umumnya tidak memiliki ilmu pengetahuanatau tidak berpendidikan.
  • Biasanya, jika ada budak maka ada tuannya, maka pastilah ada kasta yang lebih tinggi dari sudra yang membawa kasta Sudra ke Indonesia.

3. Teori Ksatria

F. D. K. Bosch juga menyampaikan pendapatnya mengenai masuknya agama Hindu ke Indonesia. Ia menyatakan bahwa masuknya agama Hindu yakni melalui peperangan antargolongan. Para prajurit yang kalah dalam perang lantas meninggalkan India. Nah, diantara mereka ada yang sampai di tanah Indonesia. Kemudian mereka berusaha untuk membentuk koloni-koloni sebagai tempat tinggalnya. Ada pula pendapat yang dikemukakan, yakni sebagai berikut :  a. C.C. Berg
Ia menjelaskan bahwa para ksatria India ada yang terlibat dalam konflik perebutan kekuasaan di Indonesia. Bantuan yang diberikan oleh para ksatria ini membantu kemenangan bagi salah satu kelompok atau suku di Indonesia yang bertikai. Sebagai hadiah atas kemenangan itu, ada di antara mereka yang dinikahkan dengan salah satu putri dari kepala suku atau kelompok yang dibantunya. Dari perkawinannya itu, para ksatria dengan mudah menyebarkan tradisi Hindu-Budha kepada keluarga yang dinikahinya tadi. Selanjutnya berkembanglah tradisi Hindu-Budha dalam kerajaan di Indonesia.

b. J.L. Moens
Ia menjelaskan bahwa proses terbentuknya kerajaan-kerajaan di Indonesia pada awal abad ke-5 ada kaitannya dengan situasi yang terjadi di India pada abad yang sama. Sekitar abad ke-5, ada di antara para keluarga kerajaan di India Selatan melarikan diri ke Indonesia sewaktu kerajaannya mengalami kehancuran. Merekalah yang nantinya mendirikan kerajaan di Indonesia.

Kelebihan
  • Pada masa itu, kaum Ksatria sedang gencar-gencarnya melakukan petualangan untuk menaklukan daerah lain.
Kelemahan
  • Umumnya, kaum Ksatria tidak menguasai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa.

  • Apabila daerah Indonesia pernah menjadi daerah taklukkan kerajaan-kerajaan India, tentunya ada bukti prasasti (jaya prasasti/jayastamba/tugu kemenangan) yang menggambarkan penaklukkan tersebut. Akan tetapi, baik di India maupun di Indonesia tidak ditemukan prasasti semacam itu. Adapun prasasti Tanjore yang menceritakan tentang penaklukkan kerajaan Sriwijaya oleh salah satu kerajaan Cola di India, tidak dapat dipakai sebagai bukti yang memperkuat hipotesis ini. Hal ini disebabkan penaklukkan tersebut terjadi pada abad ke-11 sedangkan bukti-bukti yang diperlukan harus menunjukkan pada kurun waktu yang lebih awal.

J .C. Van Leur
4. Teori Brahmana

Menurut teori yang dinyatakan oleh J.C. Van Leur ini, kebudayaan Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh kaum Brahmana (pendeta) yang sengaja diundang oleh penguasa-penguasa Indonesia. Pendapatnya berdasarkan bukti terhadap sisa-sisa peninggalan kerajaan Hindu-Budha, terutama pada prasasti-prasasti yang menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa. Di India, hanya golongan Brahmana-lah yang mengerti dan menguasai penggunaan bahasa tersebut. Namun, kelemahan teori ini ialah adanya peraturan bahwa Brahmana tidak boleh keluar dari negerinya sehingga tidak mungkin mereka dapat menyiarkan agama ke Indonesia.

Kelebihan
  • Prasasti peninggalan di Indonesia banyak menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa yang biasanya hanya dikuasai oleh kaum Brahmana
  • Hanya para Brahmana yang bisa melakukan upacara khusus yang menjadikan seseorang menjadi pemeluk hindu (Vratyastoma)
Kelemahan

  • Dalam tradisinya, terdapat pantangan bagi kaum Brahmana untuk menyeberangi lautan

5. Teori Nasional atau Arus Balik

Teori nasional mengungkapkan bahwa penduduk Indonesia banyak yang aktif berdagang ke India, pulangnya membawa agama dan kebudayaan Hindu. Sebaliknya, orang-orang Indonesia (raja) mengundang para brahmana dari India untuk menyebarkan agama dan kebudayaan Hindu di Indonesia. Jadi, bangsa Indonesia sendiri yang aktif memadukan unsur-unsur kebudayaan India. Banyak pemuda Indonesia yang belajar agama Hindu–Buddha ke India dan setelah memperoleh ilmu, mereka kembali untuk menyebarkan agama di Tanah Air.

Kelebihan
  • Ada kemungkinaan para bangsawan di Indonesia pergi ke India untuk belajar agama Hindu-Budha dan Budaya, tujuanya agar dengan ilmu yang mereka dapat dari india, para bangsawan bisa membuat kekuasaan di Indonesi dengan mencotoh kebudayan Hindu-Budha
Kelemahan
  • Kemungkinaan orang Indonesia untuk belejar agama Hindu-Budha ke india sulit, karena pada masa itu oran indonesia masih bersifat pasif.
6. Teori Campuran

Teori ini beranggapan bahwa baik kaum brahmana, ksatria, para pedagang, maupun golongan sudra bersama-sama menyebarkan agama Hindu ke Indonesia sesuai dengan peran masing-masing.

Kelebihan
  • Kasta sudra merupakan budak maka pasti para ksatria dan pedagang membutuhkan mereka untuk melakukan peran masing-masing.
  • Semua kasta sebenarnya saling membutuhkan.
Kelemahan

  • ·       Dalam tradisi agama Hindu terdapat pantangan bagi kaum Brahmana untuk menyeberangi lautan

Wednesday, January 27, 2016

Pengertian Sejarah


Moh. Yamin
·         J.V. Bryce
Sejarah adalah catatan dari apa yang telah dipikirkan, dikatakan, dan diperbuat oleh manusia.

·         Patrick Gardiner
Sejarah adalah ilmu yang mempelajari apa yang telah diperbuat oleh manusia.

·         Moh. Yamin (sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, dan ahli hukum)
Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan.

Ibnu Khaldun
·         Ibnu Khaldun (sejarawan muslim)
Sejarah didefinisikan sebagai catatan tentang masyarakat umum manusia atau peradaban manusia yang terjadi pada watak/sifat masyarakat itu.

·         R. Moh. Ali (sejarawan)
Moh. Ali dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia, mempertegas pengertian sejarah sebagai berikut:
1.    Jumlah perubahan-perubahan, kejadian atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.
2.    Cerita tentang perubahan-perubahan, kejadian, atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.

3.    Ilmu yang bertugas menyelidiki perubahan-perubahan, kejadian, dan atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.

Dari semua pengertian diatas, bisa disimpulkan bahwa 'sejarah' berarti segala sesuatu yang diperbuat atau dialami oleh manusia di masa lampau, yang terjadi pada suatu ruang dan waktu, mengalami perubahan, serta memiliki pengaruh terhadap kehidupan manusia saat ini.